Pages

Sunday, 20 April 2014

Tak ke Mana-Mana

Jarang sekali saya membiarkan diri saya jatuh cinta pada seorang manusia, hampir tidak pernah malah. Namun kali ini saya biarkan diri saya benar-benar mencinta. Sedikit-sedikit bahkan kadang sendat-sendat, tapi mengalir terus dan bahkan saya tak tahu seberapa besar genangan cinta yang saya punya tentang partner saya ini... karena rasanya ia tak berhenti mengalir. Bahkan ketika sudah deras, bahkan ketika sudah tertumpah seperti air terjun, saya temukan genangannya masih memuat cukup banyak cinta. Ah, semoga memang tak habis-habisnya :)

Cinta ini tentang partner saya. Tentang, bukan untuk. Karena cinta dalam genangannya bukan cuma mengalir untuknya. Betapa ia mengarus dan menyentuh banyak subjek lain.. terutama diri saya sendiri. Mungkin karena cinta saya berbalas. Tak tanggung-tanggung, saya dihujani cinta yang "walaupun, bukan karena", dan dia begitu keras kepala. Sudah saya keluarkan semua "walaupun" yang saya punya, tapi dia bergeming. Manis dan setia, keras kepala, atau setengah gila, saya tidak tau pasti hahaha..

Buat saya, cinta pada seorang manusia selalu beriringan dengan takut kehilangan. Saya tidak suka merasa takut, rasanya salah satu ketakutan terbesar saya adalah takut punya terlalu banyak rasa takut. Makanya saya enggan jatuh cinta pada seorang manusia. Lalu kali ini ada variabel baru: dicintai, dan rupanya ia beriringan dengan ketakutan-ketakutan yang lain. Takut mengecewakan, takut menyakiti, takut meninggalkan, dan lain-lain.

Trik saya untuk menghalau ketakutan-ketakutan tentang cinta adalah mengantongi bayangan realita dan menyisakan sepetak ruang dalam hati saya yang tidak tersentuh genangan cinta ini. Bisa membayangkan kemungkinan terburuk, bersiap menghadapinya, dan tau saya masih punya tempat menyelamatkan diri membuat saya merasa cukup aman. Oh! Dan satu lagi, satu lagi yang paling utama: mendasarkan semua cinta yang horizontal pada cinta terbesar yang vertikal. Sudah, itu jaminan paling aman. Tak perlu takut, tak perlu risau, karena Ia sungguh begitu mudah membolak-balikkan hati :)

Yah, begitulah..
Seperti kata Tangga (lagunya bagus banget, btw, dan judulnya saya pinjam untuk menjadi judul tulisan ini), "Kita sedang bahagia, jangan buang waktu menerka-nerka akhirnya".

Enjoy the journey, Shanti :)

2 comments:

Anonim said...

Hihi. Mungkin itu bukan genangan, tapi sumur. Memang menggenang, tapi tak keruh. Memang tak meluap, tapi dalam dan tak habis walau ditimba. Perihal 'main course' emang deh ya, gada kenyangnya, haha.

Anyway, really happy for you. And for your 'main course' too :)

PS:
Tebak gw siapa *yaelah gampang banget :))

Anonim said...

my admiration to you :D
-me-

Post a comment

 

Blog Template by BloggerCandy.com