Pages

Friday, 2 October 2015

Rasanya Punya Anak

Dulu waktu baru nikah, gw beberapa kali ditanya "Gimana rasanya nikah?" dan gw menjawab "Rasanya... gw menikah sama orang yang tepat :D"

Fast forward ke sembilan bulan setelah itu, gw ditanya "Gimana rasanya punya anak?" dan jawaban gw tetep sama. Rasanya... gw menikah sama orang yang tepat :D

Iya, yang paling dominan gw rasain setelah punya anak bukanlah euforia tentang anaknya atau apa gitu. Yang paling dominan gw rasain di hari-hari pertama punya anak ini adalah betapa bersyukurnya punya Andy sebagai suami :) Meskipun dia sebelumnya ga suka anak kecil dan ga menunjukkan minat buat ngurus anak kecil, sejak hari pertama anak kami lahir dia terampil ngegendong dan ganti popok. Plus suka nyiumin dan mau foto-foto sama si Anak. Wow mejik! Heheheh.. *yang kenal Andy pasti ngerti kenapa ini mejik banget :p*

Dia juga super baik ngurusin gw mulai dari bantuin jalan sehari setelah gw dioperasi, makein stagen/gurita, nyuapin makan, dan terutama ngasih dukungan emosional. Yaa bagian terakhir tetep kecampur komen-komen ngeselin dan kurang empatik sih hahaha tapi tetep aja, peran dia besar banget dalam menghindarkan gw dari baby blues dan bikin produksi ASI gw lancar karena suasana hati yang enak. Bener-bener bikin banyaaaak banget berterima kasih sama Allah dan berdoa "Ya Allah panjangkanlah kebersamaan kami di dunia dan pertemukanlah kami kembali di surga". Aamiiin :)

:)
Sampe sekitar dua hari yang lalu perasaan yang dominan itu doang, tapi terus bertambah sama rasa... hmm... apa ya.. Pokoknya gw jadi menyadari kalo baru punya anak ini "menantang" buat orang yang batre sosialnya lemah kayak gw. Kan banyak yang nengok tuh, dan ada aja lah yang banyak komentar atau banyak nanya atau apa lah yang pokoknya bikin gw capek ngeladeninnya. Apalagi pas sehari setelah melahirkan, yang nengok banyak dan gw pas lagi mules kontraksi karena rahim kembali ke ukuran semula + bekas jaitan ngilu + keleyengan habis belajar jalan. Meh. Pas itu gw udah bodo amat sih, tutup tirai di sekitar tempat tidur trus gw tidur aja. Biar aja Andy yang nemuin mereka semua hehe..

Yah, jadi begitulah.. Keseruan jadi mama-mama baru dimulai, dan tampaknya akan banyaaak sekali rasa baru yang ga kebayang sebelumnya di depan sana. Bring it on! :D
Saturday, 26 September 2015

Things I'm Willing To Do For My Son (and Things I'm Not)

Catatan: Awalnya gw ga menuliskan nama dokter yang gw ceritain di sini, tapi kemudian gw tulis setelah dapet update cerita dari suami gw.

***

I've drained my emotion and some of the exchanges has been repressed, so this post should be cool. Had I write this yesterday, it would be so full of rage I may not be able to write coherently.

And yes, my son is here already :)
But that's a story for another post.

So.
My son was diagnosed with tongue tie. His peds refered him to dr. Asti Praborini, Sp.A., IBCLC, an expert in that issue. I've read about her many times in articles related to tongue tie and it seems like she's one of the go-to person in Jakarta about tongue tie, so I thought bringing my son to her was on point despite the effort to bring my son to her practice which is quite far from where I reside now. Regarding the treatment for my son's tongue tie, it was. But....

I was caught off guard the first time I entered her room. I couldn't pinpoint the reason but my first impression was "why does she seem not friendly?". You know, it's like you meet a new person and out of nowhere got a hunch that you won't get along well with that person. Mimi would call that "cit" feeling haha.. That feeling aside, my husband and I sat facing her and she started asking questions about our plans about breastfeeding our son. I was uncomfortable with the way she asked questions and more so with the way she responded to our answers. It was like being in an oral comprehension test with Bu MZ. I could handle that, but I was confused as I thought I shouldn't feel like that as a patient. My job is very alike with hers, and "being tested" is not how I would like my clients to feel.

We proceeded. She performed incision to my son's tongue tie (and lip tie, I was told later on by another doctor - dr. Asti didn't mention anything about this) and from what I've read I assumed that after the incision I will breastfeed my son and go home. Go home happily, I might add, because the procedure should make breastfeeding easier and more comfortable for my son and me, right?

Boy how I was wrong.

After the incision (it's not scary, btw) my son was brought to me and I was expected to breastfed him. He didn't want to, maybe because his mouth was still feeling weird after the anesthesia and the incision. Then dr. Asti "helped" by teaching... oh slash that. that was not teaching... positioning my son to (later on i knew it's called) cross-cradle hold and then football hold. *i'm struggling to write the experience here. it's hard. and dammit i can't* OK I may can't write in details here about how it went, but the whole process was very emotional for me. I went through a multitude of feelings: frustrated because my son didn't want to be breastfed, confused and didn't know what to do because dr. Asti kept telling me that my position was wrong but didn't give clear instruction and didn't accept what I tried to improve the condition, shocked by how not gentle she handled my son and totally disliked it, and offended because she judged me (for example by saying "Kamu pasti ga bisa masak, soalnya ga terampil megang bayi" to which I wanted to retort "Ya saya emang ga masak anak bayi juga sih"). I was literally choking back tears and struggling to compose myself, yet I didn't feel angry. But apparently dr. Asti had different opinion. Through the process I was looking at my son, because where else was I supposed to look when talking to him and trying to breastfeed him, right? And suddenly dr. Asti pulled my chin and turned my face toward hers, saying "Jangan marah sama yang ngajarin" sternly.

OUTRAGEOUS.
No one ever did that to me.
No one has the right to.

Rage boiled inside me. Choking back tears was significantly harder. I wanted to slap her hand but both my hands were holding my son.

I can't imagine a health service provider, a counselor, doing that to her client. I can't imagine myself doing that to my client. Not in my wildest dream. I can't believe she just did that to me.

So, well..
Bringing my son to the best option out there when he needs medical treatment is something I'm definitely willing to do.
But going back to that doctor is not.

***

Update:
Tadi Andy cerita kalo ternyata dr. Asti bilang ke dia "Kamu harus hati-hati, istri kamu baby blues dan bisa depresi". Di titik gw denger cerita itulah gw memutuskan untuk menuliskan nama dr. Asti di sini. Gw ga marah dengernya, malah bengong dan ngakak. Asli lah. Menguap sudah rasa marah gw, berganti "Yaelah kalo dia ngasal begini mah berarti ga usah gw ambil hati lah semua omongannya". Di sisi lain, gw jadi khawatir pengalaman kaya gini juga terjadi pada orang lain dan efeknya merugikan, makanya gw putuskan untuk nulis nama dokternya di sini.

Waktu dr. Asti manggil Andy dan nyebutin "diagnosis" tadi, Andy dalam hati bilang "Sekarang mah bukan baby blues lah, yang ada dia lagi pengen nonjok elu" haha.. Trus dia jawab ke dokternya "Ah kalo depresi sih jauh, saya lebih tahu".

Yes, we know better.
We know better about our condition.
And we know better than judging clients and giving psychological diagnosis without proper anamnesis.

Gw psikolog, Andy sarjana psikologi. Kami tahu pasti bahwa gw saat ini insya Allah tidak sedang mengalami baby blues dan tidak memiliki risiko tinggi untuk mengalami post-partum depression.

Kami "beruntung" karena punya dasar ilmu untuk mempertimbangkan kembali dan menolak "diagnosis" dokter itu. Tapi gimana kalo hal itu diomongin ke orang yang ga ngerti? Gw khawatir malah bikin down. Apalagi kalo selama sesi si ibu baru juga di-judge ga terampil megang anak kayak gw. Udah mah dinilai ga kompeten sama figur yang dianggep lebih tau, dianggep bisa depresi pulak. Bae-bae jadi baby blues atau depresi beneran. Self-fulfilling prophecy. Ini berbahaya dan jelas merugikan pasien.

Gw berbagi pengalaman ini bukan untuk mendiskreditkan dr. Asti.
Poin gw adalah: Jangan menerima mentah-mentah apa kata orang, bahkan kalopun orang itu adalah figur otoritas seperti dokter. Take everything with a grain of salt, do your homework reading about your condition, and don't be hesitate to look for second opinion.

Semoga bermanfaat :)

Thursday, 10 September 2015

Kenapa Kasih Saran Tentang Anak?

Berawal dari pertanyaan Mimi yang lagi bantuin penelitian orang, gw jadi merhatiin timeline media sosial gw dengan sedikit lebih serius. Yang akan gw bahas di tulisan ini lebih ke Instagram dan Facebook sih, karena fenomenanya juga lebih banyak gw temukan di situ daripada di Path, Twitter, atau Periscope. Gw ga masukin Snapchat dan ask.fm karena gw ga punya akunnya hahaha lagian tampaknya dua platform itu ga banyak dipake sama kelompok orang yang gw amati ini.

Meskipun pengamatannya sedikit lebih serius, ini bukan penelitian beneran yang pake 'niat' ngerjainnya jadi gw pun hanya mengamati apa yang udah ada di timeline gw. Artinya, latar belakang demografis dan minat gw juga mempengaruhi apa yang kemudian gw liat. Kalau digambarkan, yang gw amati di timeline gw adalah perempuan usia 25-35 tahun yang topik post-nya berkisar pada anak, skincare, dan makeup. Orang-orang ini ada yang gw kenal secara personal dan ada juga yang nggak.

Ada beberapa fenomena yang menarik berdasarkan hasil pengamatan gw. Sekarang gw mau bahas yang paling konsisten gw temukan dan paling anget gw bahas sama Mimi tadi pagi: komentar berupa saran.

Menurut KBBI, "saran" artinya "pendapat (usul, anjuran, cita-cita) yang dikemukakan untuk dipertimbangkan". Kebayang lah ya contoh "saran" itu kayak apa. Nah, yang gw temukan, orang cenderung kasih komen berisi saran di post yang topiknya tentang anak. Post itu sendiri seringkali ga berupa pertanyaan atau permintaan saran, tapi ada aja lho yang komen berupa saran. Hal ini gw temukan di post-nya selebgram dengan ribuan followers maupun rakyat jelata macam gw. Komen berupa saran ini bisa datang dari orang yang gw tau saling mengenal maupun dari orang yang gw asumsikan tak dikenal. Hal yang disaranin dalam komen itu bisa macem-maceeeeem banget, mulai dari cara cara berpakaian anak sampe saran untuk ngasih adik lagi buat anaknya.

Caption foto ini membahas baju menyusui, tapi komennya......
Sejauh yang gw amati, saran-saran ga diminta itu ga muncul dalam post yang topiknya skincare atau makeup. Gw belom pernah nemu tuh ada komen semacam "Jangan pake lipstik merk itu, kan bikin kering.." di post berupa foto Face of The Day atau swatch lipstik.

Nah, sekarang gw jadi penasaran nih..
Pengamatan gw bener ga sih? Dan kalau bener, kenapa ya?
Karena itu, boleh ya gw minta tolong buat jawab pertanyaan-pertanyaan di sini.. Atau kalo males buka link-nya mangga lah jawab pertanyaan-pertanyaan berikut ini lewat komen di sini, email ke shantiandin@gmail.com, atau WhatsApp ke gw :D

  1. Pernah ga liat ada saran tanpa diminta tentang anak di post orang lain?
  2. Pernah ga dapet saran tanpa diminta waktu ngepost tentang anak?
  3. Pernah ga kasih saran tanpa diminta tentang anak di post orang yang dikenal? 
  4. Kalau pernah, apa alasannya?
  5. Pernah ga kasih saran tanpa diminta tentang anak di post orang yang ga dikenal? 
  6. Kalau pernah, apa alasannya?
  7. Pernah ga kasih saran tanpa diminta tentang topik selain anak di post orang yang dikenal? 
  8. Pernah ga kasih saran tanpa diminta tentang topik selain anak di post orang yang ga dikenal? 
  9. Kalau pernah, apa topiknya? (Sebutkan)

Trimakasiiii :)
Tuesday, 1 September 2015

Maju Mundur Sekolah Lagi

Sore ini gw ngantuk banget, mau ngerjain setumpuk PR yang harus beres sebelum cuti sudah tak mampu tapi mau pulang juga belum dijemput. Buat ngisi waktu gw nulis-nulis random aja lah ya, kebetulan ada topik yang jadi kepikiran (lagi) setelah rapat siang tadi.

Sekolah lagi.

Kenapa sih gw mau sekolah lagi? Karena mau jadi dosen? Ih tapi males kalo jadi dosen harus masuk kantor tiap hari.. Berarti bukan ya, jadi dosen hanya efek samping yang mungkin terjadi kalo gw sekolah lagi. Lalu apa dong? Hmm.. gw masih pengen punya legacy berupa alat tes psikologi. Tapi kalo mau itu doang ga usah sekolah lagi kali ga? Yaaa, gw pikir sarana prasarana buat penelitian akan jauh lebih mudah kalo dilakukan dalam konteks pendidikan sih, baik sebagai mahasiswa maupun sebagai dosen.

Kalo gitu sekolah lagi di Indonesia aja. Yahahahahahahaha iya sih, kenapa selama ini ga mikir gitu ya? Haha.. Sejak wisuda S2 gw berniat kalopun wisuda lagi ga di UI sih, pengen ngerasain pendidikan di negara lain dengan pakar-pakar selain yang udah gw temui di UI. Pengen tau kemajuan ilmu di luar sana kayak apa sih.

Tapi hidup selalu butuh kompromi.

Kondisi gw sekarang kurang memungkinkan untuk berlama-lama kuliah di luar negeri. Karena itu, apabila penelitian yang gw mau feasible untuk dilakukan di Indonesia ya mungkin itulah jalan yang terbaik. Toh LPDP juga ngasih beasiswa untuk sekolah lanjutan di dalam negeri.

So, the game is on again?
Monday, 31 August 2015

Wishlist Barang Perbayian

Berhubung hari ini ga ngantor, gw jadi browsing Instagram trus ingin ini ingin itu banyak sekali :)) Belanja barang-barang yang penting dan mendesak buat gw maupun Anak insya Allah udah beres, tapi masih ada barang-barang yang gw ragu itu sebenernya butuh apa pengen doang hahaha jadi belum dibeli deh.. Ditunda aja dulu, mana tau ada yang ngado :p Atau kalo ga ada yang ngado dan ternyata beneran perlu yaaa bisa dibeli ntar-ntar lah.

Apa sajakah gerangan? Ini dia..

  • Nursing Cover Bebe Au Lait - Niat pake nrursing cover kalo lagi menyusui cukup mantap, tapi pergalauan karena takut gw maupun Anak kegerahan. Kalo baca-baca review dan nanya langsung ke yang udah make sih ini oke banget ya, tapi mahal hahaha.. Alhamdulillah dikadoin sama Sekte *cium satu-satu*
  • Bantal menyusui - Ini ada yang bilang perlu, ada yang bilang ga perlu. Model pun macam-macam, gw bingung ahaha.. Kalo cuma menilik yang lucu mah gw pengen yang dari Baby Loop ini.. Update: Alhamdulillah dikadoin sama Kak Reti sang Konselor AIMI, beneran berasa manfaatnya buat gw :D
  • Changing pad, wetbag, & diaper pouch - Buat kalo jalan-jalan :D Yang gambarnya satu set kayak di beebies & kiddos ini lucu juga, tapi kalo ngga ya gapapa. Yang bener-bener perlu juga kayanya cuma changing pad. Wetbag sama diaper pouch mah bisa diganti sama kresek ya.. Hahah.. Cuma gw mah gemar misah-misahin barang pake pouch jadi ya pengen aja.
  • Gendongan - Karena katanya bayi cocok-cocokan dan selera-seleraan sama gendongan ini, gw juga belum beli. Pengennya sih nanti nyobain dulu, sewa atau minjem gitu trus beli yang anaknya suka. Sempet bikin ngambek Andy nih karena dia pengen beli gendongan tapi ga gw bolehin :)) Ya manatau ada yang ngasih Ergo 360 atau Boba Wrap kan yaa.. Meheheh,, Eh tapi gw udah dibeliin gendongan batik yang klasik itu sih dan udah latihan makenya juga haha.. Update: Barusan dikasih kado Bobita Wrap juga sama Mimi! Aaakkk makasiiii :*
  • Totseat - Kayanya lucu yah bayinya jadi bisa ikut duduk semeja gitu hihi..
  • Nuna Leaf - Yah sebenernya bouncer apapun kayanya oke-oke aja sih.. Ini kemaren Andy naksir aja pas liat di Kyrakidz heheh..
  •  Baby bather - Merk ga penting lah ya asal aman hehe..
    Gambar dari sini
  • Buku-buku MPASI - Meskipun informasi udah gampang didapet di internet, tetep aja gw mah seneng baca buku :D Yang udah gw incar antara lain Sehat Lezat: Olah Saji dr. Tiwi, Makanan Bayi Sehat Alami *makasi Uswah*, MPASI Perdana Cihuy!, sama MPASI 2 in 1 Cihuy! *makasih Pija & Sari*.
  • Paket newborn photoshoot sama Mbak Rittar -  Terlalu lucuuuuukkkkkkkkk *gigittt*
  • Kamera - Yaaaaa ini ga berkaitan langsung sama barang bayi sih, tapi gw pengeeeeeen ahahahaha.. Tadinya mau dijadiin reward kalo gw dapet kerjaan ini, tapi berhubung kayanya ga keterima jadi ga ada alesan buat beli deh..
Kayanya itu aja yang kepikir sekarang. Barang-barang keperluan MPASI mah ntar duu deh dipikirnya hehe..
Friday, 28 August 2015

Biaya Melahirkan di RS Pondok Indah (2015)

Pas tau kalo hamil, selain milih-milih dokter kandungan (DSOG) pastinya gw juga milih-milih rumah sakit buat kontrol rutin dan melahirkan. Cerita milih DSOG insya Allah nanti ditulis terpisah ya, sekarang gw mau bahas pilihan rumah sakit dulu. Setelah ngebandingin langsung pelayanan dari 4 rumah sakit terkenal di Jakarta, gw akhirnya mantep milih RS Pondok Indah buat kontrol rutin maupun melahirkan. Kenapa? Soalnya...
  1. RSPI cukup mudah dan cepet diakses dari Cinere, Depok, dan Bogor. Jadi kalo gw kontraksi di rumah, kantor, maupun rumah ortu insya Allah cepet sampe lah ke rumah sakitnya.
  2. Di RSPI ada DSOG konsulen fetomaternal dan dokter internis konsulen alergi & imunologi. Dulu pertama ke dokter alergi sama dokter yang di RSPI ini, gw juga pernah rawat inap di RSPI gara-gara alergi, jadi ya udah ada lah rekam medik gw di sana.
  3. Sistem antri dokternya enak banget! Daftarnya lewat telpon trus pas daftar itu langsung dikasih nomer dan perkiraan jam ketemu dokternya. Pas hari periksa atau sehari sebelumnya dapet SMS pemberitahuan jam praktik dokter, kalau-kalau dokternya majuin/mundurin jam praktik (dokter gw sering nih hahaha) jadi kita bisa ngira-ngira lagi ketemu dokternya bakal jam berapa. Karena udah ada perkiraan jam itu pas sampe di poli jadi ga nunggu lama, paling cuma 1-2 pasien trus kita masuk deh ke ruang dokternya. Karena sistem itu juga, poli kebidanan yang nyatu sama poli anak itu ga rame dan rusuh sama bocah-bocah berkeliaran.
  4. RSPI pro ASI. Berdasarkan informasi di buku panduan pasien, admission office, maupun bidan, di RSPI bisa IMD sampai dengan 2 jam dan bisa rooming in.
  5. Bidan-bidan dan perawat-perawatnya baik dan ngademin >>> subjektif abis ahahaha..
Karena faktor-faktor di atas terutama nomer 2, gw merem aja deh sama tarif RSPI yang cukup mahal. Toh gw puas sama pelayanannya. FYI aja nih, dari 4 RS yang gw 'icipin' selama hamil ini, 2 RS lebih mahal dari RSPI tapi pelayanannya cukup bikin gondok karena menurut gw ga sebanding sama harga dan terlalu apa-apa disuruh bayar.

Untuk biaya melahirkan di RSPI, paket yang diinfokan ke pasien adalah harga perkiraan standar. Buat yang melahirkan per vaginam alias normal harga paketnya buat 3 hari, tapi kalau ternyata udah bisa pulang sebelum perkiraan dalam paket ya jatohnya lebih murah. Rinciannya ada di tabel di bawah ini yaa..

Kls III/CKls II/BKls I/AVIPVVIP BVVIP ASuite
Jasa dokter obgyn3.500.0003.500.0004.000.0005.500.0006.500.0006.500.0007.000.000
Jasa visite dokter obgyn (3 hari)525.000675.000825.000975.0001.050.0001.050.0001.200.000
Jasa visite dokter anak (3 hari)750.000750.000750.000750.000750.000750.000750.000
Kamar bersalin1.750.0002.000.0002.600.0003.100.0003.100.0003.800.0004.400.000
Kamar perawatan ibu (3 hari)750.0001.800.0002.700.0005.250.0006.750.0008.250.00015.000.000
Kamar perawatan bayi (3 hari)2.550.0002.550.0002.550.0002.550.0002.550.0002.550.0002.550.000
Obat/alkes ibu dan bayi (di kamar bersalin)1.331.0001.331.0001.331.0001.331.0001.331.0001.331.0001.331.000
Laboratorium762.300762.300922.383922.383922.383922.383922.383
Surat keterangan lahir138.000138.000138.000138.000138.000138.000138.000
CTG (2x)400.000400.000400.000400.000400.000400.000400.000
Jasa pendampingan dokter anak partus800.000800.000800.0001.000.0001.100.0001.100.0001.200.000
Jumlah13.256.30014.706.30017.016.38321.916.38324.591.38326.791.38334.891.383

Nah kalo melahirkannya pake operasi maka biayanya diperkirakan buat 4 hari rawat inap. Rinciannya di tabel di bawah ini.

Kls III/CKls II/BKls I/AVIPVVIP BVVIP ASuite
Jasa dokter obgyn5.000.0005.000.0006.000.0008.000.0009.000.0009.000.00010.000.000
Jasa visite dokter obgyn (4 hari)700.000900.0001.100.0001.300.0001.400.0001.400.0001.600.000
Jasa visite dokter anak (4 hari)1.000.0001.000.0001.000.0001.000.0001.000.0001.000.0001.000.000
Jasa dokter anaestesi2.000.0002.000.0002.400.0003.200.0003.600.0003.600.0004.000.000
Kamar operasi4.000.0001.500.0005.000.0005.500.0006.000.0006.000.0006.500.000
Kamar perawatan ibu (4 hari)1.000.0002.400.0003.600.0007.000.0009.000.00011.000.00020.000.000
Kamar perawatan bayi (4 hari)3.400.0003.400.0003.400.0003.400.0003.400.0003.400.0003.400.000
Obat/alkes ibu dan bayi (di kamar operasi)6.897.0006.897.0006.897.0006.897.0006.897.0006.897.0006.897.000
Laboratorium1.270.5001.270.5001.537.3051.537.3051.537.3051.537.3051.537.305
Surat keterangan lahir138.000138.000138.000138.000138.000138.000138.000
CTG (2x)400.000400.000400.000400.000400.000400.000400.000
Persiapan SC di kamar bersalin300.000300.000300.000375.000375.000375.000375.000
Jasa pendampingan dokter anak sectio1.000.0001.000.0001.200.0001.500.0001.700.0001.700.0002.000.000
Jumlah27.105.50026.205.50032.972.30540.247.30544.447.30546.447.30557.847.305

Beberapa keterangan dari biaya di atas:
  • Belum termasuk administration fee.
  • Belum termasuk obat/alkes di kamar perawatan, pemeriksaan penunjang, konsultasi dengan dokter bidang lain (jika diperlukan), dan obat/alkes di kamar bersalin yang di luar standar.
  • Uang muka 70% dari perkiraan biaya di atas dibayarkan saat masuk.
  • Meskipun rooming in tetep bayar kamar perawatan bayi -_-"
  • Kalo kamar di kelas yang kita mau lagi penuh, sementara akan dikasih kamar yang kelasnya lebih tinggi dengan tetap membayar harga kamar di kelas yang kita mau. Kalo udah ada yang kosong di kelas yang kita mau baru pindah.
  • Sistemnya bukan booking kamar tapi pas udah kontraksi dan sampai RS, sementara pasien masuk ruang observasi keluarganya daftar dan bayar uang muka.
  • Untuk dokter anak (DSA) pendamping persalinan umumnya dokter yang praktik tiap hari di RSPI (hore dr. Yovita!) kecuali kalau ada permintaan khusus dari pasien.
Semoga bermanfaat ya informasinya :)
Sunday, 23 August 2015

On Creating Legacy

Gw belum 29, tapi ini bener-bener ngena buat gw. Sejak awal tahun ini dan semakin bertambah-tambah ketika gw tau gw hamil dan akan punya anak, gw sibuk mikirin legacy apa yang mau gw berikan buat anak cucu gw. Sesuatu yang kalo gw udah meninggal mereka akan kenang dan asosiasikan sama gw.
Tadinya gw niatkan legacy itu akan berupa seperangkat alat ukur WISC adaptasi Indonesia.
Singkat cerita, cita-cita sekolah lagi ke luar negeri dan bawa pulang legacy di atas harus direlakan untuk ga kesampean. Trus sekarang balik lagi deh ke fase mikir mau bikin legacy apa.. Heuheu..
 

Blog Template by BloggerCandy.com